Jembatan Pelengkung (Arch Steel Bridge)
Jembatan pelengkung adalah struktur jembatan yang memiliki bentuk melengkung pada kedua ujungnya. Lengkungan ini berfungsi untuk memindahkan beban dari jembatan, dan sebagian beban horizontal tertahan oleh kepala jembatan di kedua sisi. Meskipun jembatan panjang dapat dibuat dari serangkaian lengkungan, biasanya struktur yang lebih ekonomis digunakan saat ini.
Saat menahan beban akibat berat sendiri dan lalu lintas, setiap bagian pelengkung menerima gaya tekan. Oleh karena itu, jembatan pelengkung harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap gaya tekan. Meskipun pelengkung tidak mengalami gaya tarik seperti pada jembatan balok, kekuatan struktur jembatan pelengkung tetap memiliki batasan. Misalnya, untuk jembatan dengan struktur utama di atas lantai kendaraan, semakin besar sudut kelengkungannya (semakin tinggi lengkungannya), pengaruh gaya tekan akan semakin kecil. Namun, ini berarti bentangnya menjadi lebih pendek. Jika ingin membuat jembatan pelengkung dengan bentang panjang, sudut kelengkungannya harus diperkecil sehingga gaya tekan menjadi lebih besar, dan diperlukan abutmen yang lebih besar untuk menahan gaya horizontal tersebut. Dengan demikian, seperti halnya jembatan balok, bentang jembatan pelengkung juga memiliki batasan, biasanya antara 50 hingga 150 meter.
Jembatan pelengkung menawarkan efisiensi yang lebih tinggi, terutama jika lokasinya cocok, seperti di lembah atau di atas sungai yang dalam, di mana pondasi melengkung berada pada tanah yang keras. Konsep jembatan pelengkung sangat sederhana: jika kita membangunnya di atas tanah yang keras, kita hanya memerlukan struktur pelengkung tanpa bagian tambahan lainnya. Tanah yang keras dapat berfungsi sebagai abutmen, dan kita dapat menempatkan tanah atau batu di sebelahnya dengan sudut yang tepat, seperti yang terlihat pada gambar.
Namun, pada tanah yang kurang keras, kita perlu menyediakan abutmen yang lebih besar untuk menahan gaya horizontal. Abutmen ini berfungsi untuk mengurangi tegangan yang terjadi akibat dorongan dari lengkungan hingga mencapai titik di mana tanah dapat menopang beban (selama tegangan tanah lebih besar daripada tegangan yang terjadi). Biasanya, ada juga gaya geser yang bekerja di daerah dekat abutmen.
Pada awalnya, Jembatan Pelengkung (Arch Steel Bridge) dibangun dari bahan seperti batu, bata, besi cor, besi tempa, dan baja. Namun, saat ini, jembatan pelengkung menggunakan beton pratekan dan baja, memungkinkan pembuatan jembatan yang lebih panjang dan lebih elegan.